Kamis, 01 April 2010






Note : Jika artikel ini bermanfaat bagi anda,  mohon di Klik iklannya sebagai apresiasi anda untuk kemajuan blog ini, terimakasih





Jumat, 27 November 2009

Menteng-Monas Wilayah dengan Pernak Pernik Peninggalan Sejarah Bangsa

Monumen Nasional atau yang lebih populer di sebut dengan Monas adalah salah satu dari sekian monumen yang didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah Belanda. Monumen Nasional yang terletak di lapangan monas ini berdiri di areal tanah 80 hektar dan dibangun tahun 1960. Tinggi monas mencapai 137 meter dan diujungnya terdapat cawan yang menopang obor perunggu 14.5 ton berlapis emas 35 kg. Ada beberapa nama yang sempat diberikan sebelum akhirnya nama Monas (Monumen Nasional) yang menjadi pilihan. Diantara nama-nama itu antara lain, Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Disekeliling tugu ada taman, dua buah kolam dan lapangan terbuka.

Saat berkunjung ke Monas banyak sekali hal yang kita dapatkan. Karena di dalam Monas tersebut terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Di museum itu isinya full of diorama (pajangan-pajangan 3 dimensi yang menceritakan peristiwa-peristiwa bersejarah jaman dulu). Untuk bisa mencapai puncak monas, telah disediakan lift. Saat berada di puncak Monas, kita bisa melihat hampir wilayah kota Jakarta. Pengunjung Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Puncak Monas sendiri cukup luas yaitu 11x11, dan bisa menampung 50 orang pengunjung.

Jika sudah masuk Monas, maka akan dapat terlihat begitu banyak makna yang tersirat dari setiap benda yang ada di dalam museum itu, seperti lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia. Yang pasti tidak ada ruginya jika ke Jakarta menyempatkan diri untuk mengunjungi Monas. Monas dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB.

Menteng Dulu dan Sekarang
Jika masih penasaran ingin menilah peninggalan sejarah zaman dulu, khususnya gedung-gedung sejarah yang di bangun pada masa penjajahan Belanda, Anda masih bisa menyusuri wilayah Menteng untuk melihat peninggalan gedung bersejarah. Memang banyak gedung bersejarah yang bisa dinimati, mesi banyak juga gedung-gedung sejarah ini hilang karena sudah di pugar dan diganti dengan gedung model zaman sekarang.

Kawasan Menteng mulai dirancang dan dibangun secara lebih modern oleh pemerintahan Belanda tahun 1910. Seorang arsitek bernama PAJ Moojen yang membuka suatu biro teknis dan mendirikan Kunstkring di Bandung (1904) dan Batavia. Pada tahun 1909, ia merancang kantor pusat Nillmij di Jalan Juanda, gedung yang sekarang dipakai oleh asuransi Jiwasraya. Pada gedung inilah, untuk pertama kalinya digunakan kontstruksi beton bertulang di Jakarta.

Dari sini dapat dilihat begitu banyak bangunan rumah kuno yang seharusnya dipertahankan. Selain nilai arsiteknya yang bagus, bangunan tersebut tentunya banyak mengungkap sejarah bangsa Indonesia. Namun apa hendak dikata, Menteng yang dulu dirancang sebagai Taman kota, lambat laun makin pembangunan gedungnya makin tak terkendali. Bappenas (Gedung Loge), Mesjid Sunda Kelapa yang ada sekarang (di belakang Bappenas) dulu merupakan bagian dari Taman Suropati.

Gedung-gedung bernilai seni peninggalan jaman dulu ini sedikit banyak mengandung nilai sejarah. Namun seiring berjalannya waktu lambat laun gedung – gedung lama ini hilang karena diganti dengan bangunan -bangunan baru. Tak hanya itu, keasrian wilayah menteng juga jadi terganggu. Padahal dulu, pembangunan yang ada di wilayah Menteng merupakan salah satu contoh pembangun sebuah kota. Sayangnya pembangunan rumah dan gedung diwilayah Menteng ini tidak terkontrol dengan baik oleh pihak pemerintah DKI, yang pada akhirnya wilayah Menteng bukan lagi menjadi wilayah yang asri untuk tempat tinggal tapi justru sebagai pusat bisnis yang tentunya akan berdampak bagi perubahan lingkungan yang ada di wilayah Menteng.

Harmoni-Kota


Alternatif Tempat Wisata di Kota Jakarta
Lets Go To Tue, 17 Apr 2007 13:22:00 WIB
Sejak awal abad 20, sekitar Taman Beos adalah pusat aktifitas perbankan. Nama Beos sendiri adalah nama Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, yang dibangun tahun 1929 oleh seorang arsitek bernama Ghijsel dan Hes. Sebenarnya tulisannya bukan Beos, tetapi BOS, singkatan dari Batavia Oost. Beos juga merupakan wilayah kota tua Jakarta yang meliputi Taman Fatahillah, Stasiun Kota, kawasan Glodok, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa.

Untuk Taman Fatahilla lokasinya sekitar 300 meter dari Halte Busway Transjakarta kearah utara. Jika menggunakan transjakarta, turun di Stasiun Kota dan jalan kaki menuju Jalan Pintu Besar Utara. Jika sudah bertemu dengan lapangan besar, itulah yang disebut Taman Fatahillah. Sebuah alun-alun besar yang dikelilingi bangunan tua bersejarah.

Banyak sekali peninggalan gedung-gedung lama zaman Belanda yang bisa dinikmati di wilayah ini. Sayangnya banyak gedung yang terbengkalai dan tidak terurus. Padahal, jika bisa diberdayakan dengan baik, gedung-gedung lama dengan gaya arsitektur perpaduan klasik dan art deco itu bisa dijadikan sebagai musiun atau tempat alternatif berwisata di kota Jakarta.

Tentu saja, untuk bisa jadi salah satu alternatif kawasan wisata harus dilengkapi dengan sarana transportasi yang memadai. Dan jalan yang terdekat yang bisa mengakses dari segala jurusan adalah dengan melewati jalan harmoni. Memang jalan Harmoni terbilang cukup padat, karena banyak gedung perkantoran dan tempat makan yang berdiri disepanjang jalan harmoni ini. Tapi jika ingin menghindari kepadatan arus lalu lintas yang ada di sekitar Harmoni, bisa juga menggunakan alat transportasi berupa Transjakarta. Hanya sampai saat ini alat transportasi tersebut lebih banyak digunakan oleh sebagian besar warga Jakarta untuk melakukan aktifitas keseharian, bukan untuk kepentingan berwisata, seperti jalan-jalan mengelilingi tempat-tempat peninggalan sejarah yang ada di Jakarta.

Meski cukup padat, namun sepanjang Jl. Harmoni terbilang cukup lebar. Kepadatan arus lalu lintas disepanjang jalan ini juga terjadi karena pada perempatan Harmoni ini sangat berdekatan sekali dengan Jl. Medan Merdeka, Jl. Djuanda, Jalan Gadjah Mada dan Jl. Tanah Abang. Sehingga boleh Jl. Harmoni ini bisa mengakses ke beberpa jalan yang banyak dilalui orang.

Bahkan jika kita mau ke Glodok, yang merupakan salah satu wilayah Beos, bisa juga melalui Jl. Harmoni ini. Glodok adalah daerah Pertokoan sekaligus hunian alias Ruko, rumah-toko. Ciri khas daerah ini adalah kegiatan etnis Cina nya, baik aktifitas dagangnya maunpun aktifitas kesehariannya.

Lantas bagaimana dengan Sunda Kelapa? Sundakelapa adalah salah satu pelabuhan tradisional di Jakarta. Dan pelabuhan ini sudah ada sejak abad 16. Karena itu nama Sundakelapa sepertinya bukan hal yang asing lagi bagi penduduk Jakarta. Untuk sampai ke lokasi ini, bisa naik bis dari depan stasiun kota dan langsung turun di depan pelabuhan Sundakelapa.

Dari ulasan singkat mengenai wilayah Beos dan Harmoni, sebenarnya banyak sekali peninggalan jaman dulu yang bisa dijadikan ajang wisata sejarah, hanya masalahnya sekarang adalah, adakah pihak-pihak terkait yang mau mengupayakan kekayaan sejarah ini menjadi salah satu tujuan wisata Jakarta?

Senin, 14 September 2009